Kamis, 18 Mei 2017

kain batik tulis madura sudah menyebar di malaysia,singapura,thailan,thaiwan,hongkong dan jerman

BATIK TULIS MADURA Menyebar di berbagai negara luar, seperti malaysia,singapura,jerman,taiwan,thailand,hongkong,


















Bagi masyarakat Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia,
Batik Malaysia bukan sesuatu yang asing dan tidak pula terbersit bahwa Malaysia mengaku batik Indonesia sebagai
batik Malaysia. Tuduhan tersebut tidak muncul karena mereka mengetahui corak batik Malaysia yang
didominasi bunga dengan warna menyala, yang sangat berbeda dengan batik Jawa. Batik Malaysia sering dijadikan
oleh-oleh masyarakat Kalimantan Barat yang kemudian dipotong dan dijahit dengan model baju kurung untuk dipakai
pada acara resmi seperti pesta perkawinan.  Batik dalam Bahasa Malaysia (BM)
adalah kain yang bercorak khas sesuatu negara. Tidak heran,
orang Malaysia menyebut batik untuk seluruh kain bercorak sehingga ada batik Indonesia,
batik Afrika, batik Cina dan lain sebagainya. Perbedaan batik antar negara lebih kepada corak.
Defenisi batik menurut BM pada dasarnya sama dengan defenisi batik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di sini.
Menurut KBBI, batik adalah “kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan menuliskan atau
menerakan malam pada kain tersebut yang diproses dengan cara tertentu,
Masih menurut KBBI terdapat dua jenis batik yaitu batik cap dan batik tulis.
Juga diberikan contoh batik dengan ciri khas masing-masing daerah sehingga dikenal ada batik Pekalongan dan batik Yogya.
Sebutan “batik” sendiri di Indonesia sudah semakin berkembang. Sebelumnya,
batik hanya istilah untuk kain bercorak dari Jawa.
Mungkin pada masa lalu kain bercorak dari daerah lain di luar Jawa belum berkembang dan dikenal banyak orang.
Sekarang, masyarakat sudah semakin mengenal batik dari luar Jawa seperti batik Kalimantan Selatan,
batik Kalimantan Barat dan sebagainya.
Ini berarti sudah terdapat kemiripan defenisi tentang batik di Indonesia dan Malaysia.
Dengan makna batik seperti yang diutarakan di atas, alangkah baiknya jika tidak menuduh Malaysia “mengambil”
batik Indonesia karena sama-sama batik namun corak dan warnanya sangat berbeda. Jika masih juga ngotot,
sama artinya tidak mengakui adanya batik lain di Indonesia di luar pulau Jawa.
Pemahaman yang benar terhadap batik dapat mengurangi konflik yang tidak perlu antar negara.
Ada baiknya direnungkan pernyataan Bapak Hendra Wardhana (Di sini) yang saya kutip sebagian sebagai berikut:
“UNESCO memang telah mengakui batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.
Kota Batik Dunia pun telah ditetapkan ada di Yogyakarta.Namun,
itu bukan berarti batik secara eksklusif dikuasai oleh Indonesia.
Pengakuan tersebut juga bukan paten atas batik karena batik tak bisa dipatenkan.
Hanya motif atau corak batik yang bisa dipatenkan.
Sementara tidak semua motif batik bisa dipatenkan karena ada sejumlah syarat termasuk
faktor sejarah yang dipertimbangkan dalam memberikan paten terhadap motif batik
"Semua orang, semua negara tak terkecuali Malaysia, China,
bahkan Amerika bisa menciptakan motif batik baru yang khas dan mengklaim sebagai milik mereka.
Kita tak perlu marah akan hal itu karena meski semua negara menciptakan motif batik khas mereka,
dunia sudah mengakui asal batik adalah dari Indonesia".

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar